Rabu, 03 Agustus 2011

KELUARGA KECIL DAN GEROBAKNYA

Ku berjalan menyusuri sudut kota, ditengah panas nya matahari dan polusi yang merajalela. Di komplek perumahan itu aku menyusuri jalan tak tau arah dan tujuan, di sudut rumah mewah berwarna putih, dan tak berpenghuni itu, Aku melihat sebuah gerobak sampah yang di belakang nya terdapat keluarga kecil sedang bercengkrama, Sang ibu kulihat sedang memangku anaknya dan mengajarinya membaca, sedangkan ayahnya terlihat letih, tertidur pulas beralaskan kardus-kardus bekas. Tubuh kecil itu menatap ke arahku, Wajahnya yang polos, Tatapan matanya yang hangat dan senyuman nya yang lembut membuat diriku tak sampai hati melihatnya.
Entah mengapa melihat itu semua mata ini ingin menangis dan hati ini terasa teriris.

Oh Tuhan terlalu banyak aku mengeluh akan kehidupanku, terlalu banyak aku berputus asa akan diriku, liihatlah diriku ini :

Sering kali ku mengeluh akan makananku yang tak enak bahkan sengaja menyisihkan dan membuangnya, sedangkan mereka makan tak tentu bahkan harus memungut makanan-makanan sisa,

Sering kali ku membeli banyak pakaian padahal di lemari masih banyak baju-baju yang bagus sedangkan mereka, mungkin hanya memiliki dua atau tiga helai pakaian itu pun sudah tak layak di gunakan,

Di kala hujan, sering kali ku mengeluh becek, dan marah-marah akibat kehujanan padahal disaat itulah sebagian dari mereka mencari uang dengan payungnya yang besar,dan di saat itulah ada tubuh kecil yang menggigil kedinginan mencari tempat untuk berteduh,

Sering kali ku mengeluh, memaksa dan memarahi orang tua untuk dibelikan sesuatu yang berharga, sedangkan mereka, mungkin hanya gerobak itulah satu-satunya harta yang berharga yang bisa mereka miliki,

Di kala malam di saat aku tertidur pulas dengan selimut hangat dan kasur yang empuk, mungkin tubuh kecil itu sedang kedinginan tertusuk angin malam.

Sering kali ku merendahkan mereka padahal mereka juga manusia biasa yang memiliki HATI, HARAPAN dan juga MIMPI

Mengingat itu semua hatiku rasanya ingin sekali berteriak “ arrrgggkkh Betapa bodohnya aku ini, merasa diriku seorang yang paling susah didunia ini, betapa bodohnya aku hanya peduli pada diri sendiri, tak bisa melihat semua kenyataan ini ”

Benakku berkata “ Kalaupun bisa, mereka pasti juga berharap agar bisa bertukar posisi dengan diriku atau dengan orang-orang yang kehidupannya lebih baik ”

Tubuh kecil itu masih menatapku dengan tatapan nya yang hangat, walaupun mereka hidup dengan sangat pas-pasan bahkan serba kekurangan, ku lihat tubuh kecil itu masih bisa tersenyum bebas tanpa beban. Aku pun tersadar dari lamunanku.

Tuhan terimakasih kau telah mempertemukan keluarga kecil dan gerobaknya ini denganku. kehidupan yang keras tak membuatnya menyerah akan kehidupan, keluarga kecil dan gerobaknya itu kini semakin menyadarkanku, kalau Aku harus tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan, bagaimanapun keadaannya, karena disekeliling aku masih banyak orang – orang yang kehidupannya lebih menderita dibandingkan kehidupan yang aku miliki sekarang. Mulai saat ini aku akan belajar mensyukuri apa yang aku miliki dan terus belajar dari lingkungan sekitar agar tetap dan terus merasa bersyukur.

Mereka ajah bisa SURVIVE kenapa aku engga !!!



_THE END_

2 komentar:

  1. “Terkadang hanya karena masih ada langit di atas langit, kita tidak mengenali langit di bawah langit.” _dede gunawan

    BalasHapus